Langsung ke konten utama

Temulawak

Ketika orang meributkan paten temulawak di Amerika Serikat, Oei Ban Liang telah memperjuangkannya sejak belasan tahun lalu melalui jalan sunyi, berliku, tanpa publikasi. Pada 9 Juni 1992, paduan kandungan temulawak dan kunyit (Rheumakur) telah mengantarkannya memperoleh paten sebagai obat rematik dan antiinflamasi dari Amerika Serikat.
Penghargaan Phyto Medica Award dari Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phyto Medica merupakan bukti kerja kerasnya selama bertahun-tahun dalam mengembangkan ”obat bahan alam” dari kunyit dan temulawak. Jika hambatan utama pengembangan obat bahan alam di Indonesia adalah ”bukti klinis”, Oei Ban Liang telah berhasil menembusnya. Walau tidak berlatar belakang medis, dari sini terlihat kemampuannya dalam bekerja sama dengan berbagai pihak.
Sebagai seorang profesor ilmu kimia organik di ITB, Oei Ban Liang telah membuktikan bahwa kegiatan ilmiahnya tidak hanya terbatas di lingkungan laboratorium dan kampus, tetapi melampaui pagar kampus, bahkan melanglang jagat. Lahir dari keluarga pedagang suku Tionghoa di Blitar, anak kedua dari pasangan Oei Kian Sioe (ayah) dan Go Tong Hwa (ibu) ini seakan keluar dari pakemnya.
Bukan sebagai pebisnis, melainkan ilmuwan. Pilihan ini disadarinya sejak remaja. Pendudukan Jepang pada 1942 telah mengandaskan sekolah dasarnya. Namun, dasar anak cerdas, sekolah menengah pertamanya hanya diselesaikan dalam waktu satu tahun. Ia kemudian masuk AMS di Malang yang semakin mematangkan kemampuan otodidaknya.
Selanjutnya pada 1951 ia masuk Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia yang berlokasi di Bandung (sekarang ITB). Mata kuliah utamanya adalah Kimia dan Biologi. Pada tahun kedua dia menjadi asisten Laboratorium Fisika. Minatnya yang besar dalam penelitian membuatnya memilih menjadi ”ahli riset farmasi”.
Walau mempunyai kesempatan satu tahun lagi untuk menjadi apoteker, hal itu tidak dilakoninya. ”Saya pilih riset farmasi karena senang jadi peneliti”, ujarnya suatu ketika. Dengan penelitian, kita melatih otak untuk memecahkan masalah. ”Bukan hanya itu, dengan menguasai metodologi, kita akan bisa memecahkan masalah apa saja”, ujarnya kepada Kompas (29 Juni 2000).
Memadukan aplikasi
Apa yang diungkapkannya bukan wacana ilmiah pemanis bibir. Suatu ketika sebuah BUMN memiliki masalah karena bijih timah yang dikirim ke Jepang ditolak dengan alasan tidak memenuhi syarat sebagaimana diperjanjikan. Akhirnya, Oei Ban Liang diminta memecahkan masalah ini.
Dari analisisnya, ternyata justru pihak Jepang yang keliru dalam metodologi sampling sehingga hasilnya dianggap tidak memadai. Dengan teliti dan telaten, semua masalah digali dan akhirnya Jepang harus menerima bijih timah dari BUMN tersebut.
Walau lulus sebagai doktor kimia organik, Oei tidak menyukai ”sekat” ilmu. Baginya pembagian ilmu kimia sebagai organik, anorganik, kimia-fisik, dan seterusnya hanyalah untuk memudahkan pemahaman. Dalam aplikasinya, semua harus dipadukan, sementara klasifikasi tersebut adalah pisau analisis untuk bedah masalah.
Seorang mantan bimbingannya menceritakan bagaimana Pak Oei ”geregetan” ketika sejawatnya tidak setuju dengan gagasannya tentang bioteknologi yang merupakan paduan biologi dan kimia. Ketika diserahi tanggung jawab memimpin Pusat Antar Universitas (PAU) Bioteknologi di ITB, yang dilakukannya adalah ”produksi” SDM.
Lebih radikal lagi, beliau juga melibatkan banyak sarjana dari luar ITB. Mereka diterima magang dulu, baru kemudian diberi beasiswa untuk studi S-2 di ITB atau bahkan sandwich. Perguruan tinggi mitra di luar negeri juga cukup ragam sehingga terjadi diversitas. Dalam waktu tidak lama terbentuklah massa kritis (critical mass) bioteknologi.
Oei Ban Liang dikenal sebagai ”pabrik” doktor. Tidak kurang dari 40 orang doktor berhasil lulus sebagai buah tangannya. Sebanyak 29 orang dibimbing langsung (sebagai promotor) dan 11 orang tidak langsung (sebagai ko-promotor). Belum lagi yang difasilitasi, baik dari ITB maupun perguruan tinggi lain, tidak terhitung banyaknya.
Lewat PAU Bioteknologi ITB saja telah dihasilkan tidak kurang dari 25 orang doktor. Apalagi jika ditambah dengan mereka yang pernah mendapat ”sentuhan” tangannya, baik di tingkat S-2 maupun S-1, yang kemudian termotivasi menjadi doktor. Selain itu, lahir dan berkembangnya Pascasarjana ITB dan PAU Bioteknologi ITB serta berkembangnya unit-unit bidang ilmu dan kelompok-kelompok kegiatan di Jurusan Kimia ITB juga adalah hasil rintisannya.
Bahkan, kontribusinya di Badan Tenaga Nuklir Nasional Bandung pun tidaklah kecil, dari berdirinya hingga dalam meningkatkan mutu pola pikir SDM.
Penyulut semangat
Oei Ban Liang yang lahir dari kalangan pedagang ini memilih takdirnya sebagai ilmuwan-pendidik. Salah satu titik kekuatannya adalah pada penguasaan konsep, metodologi riset, dan integritas peneliti (tekun, ulet, jujur, cermat, dan bertanggung jawab). Meski banyak anak didiknya yang gemetaran jika berhadapan dengannya, Oei memiliki kehangatan dan humanitas sehingga mampu menyulut semangat anak didiknya.
Di akhir hayatnya, gangguan ginjal telah menggerogotinya hingga harus cuci darah (hemodialisis) tiga kali seminggu. Namun, hal ini tidak menyurutkan semangat keilmuannya. Beberapa doktor bimbingannya tetap dapat menjalani sidang promosi ketika Oei sudah duduk di kursi roda. Ketika pendengaran dan retinanya mulai terganggu, seluruh anak bimbingnya sudah berhasil menyelesaikan studinya sehingga tanggung jawab sang guru Oei sudah selesai.
Daya ingat dan ketajaman pikirnya tidak pernah surut meski dalam keadaan sakit. Terhadap setiap yang hadir mengunjunginya, beliau tidak pernah lupa, bahkan membahas kegiatan-kegiatan yang sedang digeluti sang tamu. Selama bertahun-tahun menjalani terapi dan hemodialisis, ia tidak pernah lupa pada tahapan terapi yang harus dilakoninya dan banyaknya jenis obat yang harus diminum.
Bila ada obat yang tertinggal saat minum obat, langsung ditanyakannya kepada istri tercinta, Ari Roediretna, seperti yang terjadi pada sehari sebelum wafatnya.
Jumat, 19 November 2010, merupakan hari terakhir cuci darah bagi pria kelahiran Blitar yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-80 ini (31 Agustus 2010). Pada pukul 21.25 Tuhan menetapkan Oei harus kembali ke haribaan-Nya. Tugasnya dalam membina anak-anak bangsa telah selesai. Selamat jalan ”pabrik” doktor. Karya dan produkmu (SDM) senantiasa bermanfaat bagi bangsa dan negara, bahkan dunia.
ENDANG KUMALAWATI Salah Satu Mantan Anak Bimbingannya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

"Pembajakan" Ilmuwan Masih Berlangsung

Jakarta, Kompas - Minimnya sarana dan pemanfaatan hasil riset serta lemahnya sistem penghargaan tidak menjadi kendala bagi sejumlah ilmuwan dalam mengembangkan keahlian. Namun, kondisi ini dimanfaatkan negara lain untuk ”membajak” ilmuwan Indonesia. Sejumlah ilmuwan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, ilmuwan yang diincar terutama dengan keahlian langka. ”Iming-iming yang diberikan umumnya gaji tinggi dan fasilitas lengkap,” kata ahli mikrobiologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI, I Made Sudiana, Selasa (8/2) di Cibinong Science Center, Cibinong, Jawa Barat. Sudiana baru-baru ini mengembangkan riset isolasi dan pengembangbiakan mikroba tanah dari lereng Gunung Merapi. Tujuan riset untuk percepatan pengayaan unsur hara lereng Merapi pascaletusan tahun lalu. Pengambilan sampel tanah berjarak 5 kilometer sampai 20 kilometer dari puncak Merapi. Saat ini Sudiana mampu mengisolasi dan mengembangbiakkan lima strain mikroba endemik lereng Merapi yang berfungsi sebagai...

Berpikirlah Seperti Orang-orang Jenius

Oleh: Michael Michalko Delapan strategi yang dipakai oleh orang-orang yang superkreatif, dari Aristoteles dan Leonardo sampai Einstein dan Edison. Walaupun Anda bukan seorang jenius, Anda bisa menggunakan strategi yang sama seperti Aristoteles dan Einstein dalam mempergunakan kekuatan dari pemikiran kreatif Anda dan mengelola masa depan Anda dengan lebih baik. Bagaimana seorang jenius mengemukakan gagasan-gagasannya? Apa yang biasa dipikirkan orang terhadap lukisan "Monalisa", atau teori relativitas? Karakteristik apa yang terdapat dalam strategi berpikir Einsteins, Edison, da Vinci, Darwin, Picasso, Michelangelo, Galileo, Freud, dan Mozard? Apa yang bisa kita tarik sebagai pelajaran dari mereka? Orang kadang-kadang menyamakan antara orang yang ber-IQ tinggi dengan jenius. Orang dengan intelegensi tinggi biasanya IQ-nya lebih tinggi dari seseorang penerima Hadiah Nobel, umumnya mencapai 122. Jenius biasanya mencapai score 1600 pada Tes Scholastik, menguasai 14 bahasa pada...

Tahun 2011 dinobatkan sebagai Tahun Internasional Kimia 2011

Kabar gembira buat semua pecinta kimia, karena dua tahun mendatang tepatnya tahun 2011 dinobatkan sebagai Tahun Internasional Kimia 2011 ( International Year of Chemistry – IYC 2011 – Our Life , Our Future ). Gagasan Tahun Internasional Kimia 2011 ini pertama kali dicanangkan pada bulan Agustus 2007 pada pertemuan umum The International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) di Turin Italia. Gagasan ini ternyata disambut baik oleh dewan PBB dan pada pertemuan PBB bulan Desember 2008, IUPAC dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menyetujui untuk merayakan tahun 2011 sebagai Tahun Internasional Kimia. Tahun 2011 juga bertepatan dengan peringatan 100 tahun penghargaan Nobel Prize Kimia untuk Mme Maria Sklodowska Curie, yang berarti juga peringatan akan kontribusi wanita ke ilmu sains.Peranan kimia dalam kehidupan manusia begitu penting, seluruh materi baik padat, larutan dan gas tersusun dari berbagai unsur-unsur kimia dan bah...